15 Tahun? Menempuh Hidup Baru?
Notes to Myself #1
[Dec 2018]
Menempuh hidup baru? Umur 15 tahun? Hah, ga salah? Tapi memang itu yang terjadi. Hidup baru seperti apa, nih? Kayak yang udah aku bilang dari awal, aku itu anak asrama. Pertanyaan yang sering aku denger semenjak jadi anak asrama itu, “Kenapa kok mau sekolah asrama?”. Actually that is not a question easy to answer. Awalnya, aku juga ga tau apa alasan utama aku mau sekolah asrama. Padahal aku tau kalau asrama itu ga semudah dan seenak di rumah. Yaaah, di saat manusia pada umumnya memilih untuk hidup enak, aku justru milih untuk hidup melarat (yeah it’s like crazy people thought). Yang jelas, saat itu aku emang ga mau sekolah di Salatiga. Karena maunya di luar kota, jadi aku harus milih sekolah yg berasrama. Banyak orang yang ngerekomendasiin aku buat ke SMA Van Lith Muntilan (oke ini ga ada unsur endorse sama sekali ya. tq). Karena penasaran, bulan Oktober 2018, aku pergi ke sekolah itu. Setelah melihat-lihat dan cari banyak info soal VL (panggilan khas untuk SMA Van Lith), Mama bertanya, “Gimana, Win? Yakin mau lanjut ke VL?”. Saat itu, dengan PD aku mengiyakan pertanyaan Mama. Sampai saat ini aku masih bingung, kenapa waktu itu dg yakin aku jawab “iya” tanpa pikir panjang, pfffft.
Gimana rasanya tes PPDB di Vanlith?
Ok, next, masuk ke VL ga segampang masukin jari ke botol. We call it “Tes PPDB”. Tes PPDB terdiri dari 2 tahap. Tahap pertama yakni Tes Potensi Akademi (for me, this test was harder than the national exam) dan Tes Psikologi. Kalau kita lolos di tahap pertama, kita akan lanjut ke tes tahap kedua yang dilaksanakan hari berikutnya. Tes tahap kedua yakni Tes Fisik dan Tes Wawancara. Untuk mempersiapkannya, aku banyak latihan soal bahkan aku juga latihan fisik! Sebenernya aku ga terlalu ambisius bisa keterima di VL, tapi karena keluarga (bahkan hampir satu sekolah) tau bahwa aku akan ikut tes PPDB di VL, tentu saja aku ga mau main-main. Itulah mengapa aku mengusahakan yang terbaik. Bagiku, diterima atau engga itu urusan akhir. Aku sering denger kalau penerimaan di VL itu sebenernya misterius dan ga mutlak dari hasil tes. Ada banyak factor x yang membuat kita sulit memprediksi apakah bisa diterima atau engga. That’s why, to be accepted there is like winning a lottery.
Pengumuman penerimaan saat itu pas banget barengan sama Ujian Praktek. Aku sempet khawatir kalau misalnya aku ga diterima, it will break my mood and then I will not focus on my practical exam. Sepulang sekolah, aku membuka HPku. Awalnya aku ga berniat buka website VL (bukan karena takut sih, tapi emang ga punya kuota internet non chat), tapi tiba-tiba ada notif chat dari Mama. Mama mengirimkan screenshot pengumuman dari website. “Kak, selamat, ya. Semoga ini menjadi langkah yang baik untuk meraih cita-citamu”. Oke, sebenernya aku biasa aja, sih. Yang jelas, waktu itu aku bersyukur banget, dan aku berharap itu bisa menjadi motivasiku untuk pelaksanaan UNBK dan USBN yang akan datang.
Time flies so fast, ujian SELESAI! Aku mulai mempersiapkan diri untuk asrama, mulai dari fisik, mental, dan barang-barang apa aja yang di bawa. Agak ribet sih ya, untungnya ga begitu banyak hehe. Dan akhirnya! Minggu, 8 Juli 2018, aku berangkat ke Kabupaten Magelang. Karena tahu bahwa 40 hari ke depan (even more) aku ga bakalan punya liburan, my parents take me to Gereja Ayam, yeay! Aku juga puas-puasin chatting sama temen-temen (btw thank you temen-temen buat semangat-semangatnya).
The Day
Keesokan harinya, disambut dengan dinginnya udara Muntilan, I started my day as #AnakAsrama. Half sad half glad. Sesampainya di sana, aku melihat ratusan anak-anak berpakaian batik sibuk sendiri dengan barang-barangnya. Aku yakin, sambil mengantri pendaftaran ulang, mereka pasti sedang mengaduk-aduk ekspektasi mereka soal VL yang dicampur dengan bayang-bayang kehidupan asrama mereka dengan orang-orang asing yang baru saja mereka temui hari ini. Setelah daftar ulang, OASE dibuka dengan Misa di Kapel Sekolah. Bagian yang paling ‘seru’ adalah seusai Misa Pembukaan OASE. Semua anak datang menghampiri orang tuanya, saling berpelukan, berpamitan, dan memohon restu. Begitu pula denganku. Fun fact : Aku ga suka nangis. Jadi, saat itu aku ga nangis. Aku tahan setahan-tahannya sampai sakit perut . Okay ga penting, next. Waktunya berpisah. Kami berfoto bersama, saling mengucapkan selamat tinggal, dan melambaikan tangan. Aku tersenyum menahan tangis. Dan berhasil! Aku tidak menangis sama sekali. Mungkin, jika rasa benciku terhadap menangis bisa berbicara, dia akan senang karena aku berhasil menahan tangis di saat paling menyedihkan tahun ini. Pffft.
The Day
Keesokan harinya, disambut dengan dinginnya udara Muntilan, I started my day as #AnakAsrama. Half sad half glad. Sesampainya di sana, aku melihat ratusan anak-anak berpakaian batik sibuk sendiri dengan barang-barangnya. Aku yakin, sambil mengantri pendaftaran ulang, mereka pasti sedang mengaduk-aduk ekspektasi mereka soal VL yang dicampur dengan bayang-bayang kehidupan asrama mereka dengan orang-orang asing yang baru saja mereka temui hari ini. Setelah daftar ulang, OASE dibuka dengan Misa di Kapel Sekolah. Bagian yang paling ‘seru’ adalah seusai Misa Pembukaan OASE. Semua anak datang menghampiri orang tuanya, saling berpelukan, berpamitan, dan memohon restu. Begitu pula denganku. Fun fact : Aku ga suka nangis. Jadi, saat itu aku ga nangis. Aku tahan setahan-tahannya sampai sakit perut . Okay ga penting, next. Waktunya berpisah. Kami berfoto bersama, saling mengucapkan selamat tinggal, dan melambaikan tangan. Aku tersenyum menahan tangis. Dan berhasil! Aku tidak menangis sama sekali. Mungkin, jika rasa benciku terhadap menangis bisa berbicara, dia akan senang karena aku berhasil menahan tangis di saat paling menyedihkan tahun ini. Pffft.
Dinamika OASE dimulai. DEG!
New school, new friends, new home, new family, new chapter of my life. Living at dormitory? Will it be interesting? Will it be challenging? Or thrilling?
Let’s see!

Comments
Post a Comment
Write your comments below politely. Thank you for reading! (: