About Beauty

#cumangomong

Home isolation udah berkali-kali diperpanjang. Berdasarkan pengumuman terakhir, aku masuk sekolah awal Juni. Pffft, so bored. One day, I spent most of my time at home just scrolling instagram photos. Sesekali aku mengamati komentar orang-orang di posting an orang. Emang gabut banget sih itu. Komentar-komentar yang paling banyak kutemui itu kayak gini : "Cantik banget, sih!";"Ya ampun bangun tidur aja kek princess.";"Mukanya dong dikondisikan.";"Itu perut gede banget. Hamil?";"Cantik sih sebenernya, tapi kalo alisnya agak tebelan.";"Hehehe Mbaknya selama karantina pipinya gemukan ya.";"Aneh-aneh aja tingkahnya, untung cakep,". Seketika aku mikir. Wow, they judge people easily. Emang mereka siapa? Gampang banget ngomong gitu. 

Dan akhirnya, aku memutuskan untuk nulis lagi! Kali ini tentang beauty privilege, beauty standard, dan insecurity, yang lagi rame-rame dibicarain. Tidak hanya tentang perempuan, tetapi juga laki-laki. Bukan bermaksud sok tau, sih, ini. I just write my opinion (with some little research too). Okay, let's start!

Hari Anak Perempuan Internasional, 7 Fakta Spesial Anak Perempuan
https://www.suara.com/health/2019/10/11/070500/hari-anak-perempuan-internasional-7-fakta-spesial-anak-perempuan

Beauty Privilege

Kita pasti pernah denger atau bahkan berhadapan langsung dengan beauty privilege. Beauty privilege adalah hak istimewa yang didapatkan karena penampilan kecantikan/ketampanannya, sehingga berpengaruh terhadap pandangan orang lain kepada mereka. Contoh simplenya gini, orang yang dianggap “cakep” sama orang-orang atau memiliki penampilan menarik biasanya mendapatkan kesempatan yang lebih dari orang yang penampilannya kurang atraktif. Pasti kita sering banget denger ungkapan, “Untung cakep”, “Orang cantik mah bebas. Kita butiran debu mah apa”, “Bego sih, tapi kan cakep”, dan sebagainya. Ya, kan? Misalnya, nih, ada recruitment suatu organisasi atau apapun itu, orang yang dianggap penampilannya menarik dan memenuhi “beauty standard” pasti punya kesempatan diterima lebih besar.

Yaa tapi mau gimana lagi? Appearance itu emang penting. Apalagi penampilan fisik, karena itu yang pertama kali dapat diamati oleh orang lain. Tapi, yang menjadi masalah adalah ketika orang hanya mementingkan penampilan luar saja, tetapi tidak di dalamnya

Beauty Standard

Beauty privilege berhubungan dengan beauty standard. Beauty standard? Apakah kecantikan itu ada standarnya? Sebetulnya, beauty atau kecantikan diartikan sebagai sesuatu yang kita sukai, sesuatu yang menarik, mempesona, dan menginspirasi sehingga membuat kita senang (dilansir dari pijarpsikologi.org). Jadi, kecantikan merupakan perasaan senang yang sebetulnya muncul dalam persepsi masing-masing individu. Berdasarkan definisi itu, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya definisi beauty itu berbeda-beda dan nggak ada standarnya.

Sayangnya, masyarakat dan lingkungan sekitar kita membentuk standar kecantikan tersendiri. Dan ternyata, standar kecantikan itu memang udah ada dari jaman bahulak dan terus berubah-ubah sesuai perkembangan zaman. Beauty standar yang dibentuk oleh masyarakat itu cenderung ke definisi fisik, misalnya kaki yang kecil, tubuh yang tinggi, wajah yang tirus, dan sebagainya. Kini, standar kecantikan ditentukan oleh trend dan pendapat di media sosial, dari para NETIZEN.

Insecurity dan Dampaknya

Karena beauty standard di society itu dilihat secara fisik, akhirnya orang-orang berlomba-lomba untuk “memenuhi” standar yang sebenernya ga jelas itu. Media sosial jadi kontributor terbesar. Makin banyak orang (khususnya selebriti) yang punya akses lebih banyak untuk “mempercantik” diri, makin banyak pula awam yang iri atau justru merasa insecure dengan dirinya sendiri. Nah, yang lebih parah lagi nih ya, orang-orang yang dianggap jauh dari beauty standard sama masyarakat itu seringkali diejek, bahkan dibanding-bandingkan. Misalnya, “Ih, kamu tu lho cewe, anggun dikit, dong,” atau “Kayak si itu lho, body nya bagus, kulitnya mulus,".

Insecurity yang dialami  oleh orang-orang itu ngasih dampak yang macem-macem.

1. Menurunkan kepercayaan diri

Rasa percaya diri yang terus menurun itu disebabkan karena kita ga bersyukur atas diri kita. Kita merasa bahwa diri kita itu “nggak ada apa-apanya” dibandingkan dengan orang lain yang kita anggap “memenuhi” beauty standard

2. Iri hati

Nah, ini berkaitan banget sama kasus yang baru-baru aja terjadi di Indonesia. Netizen Indonesia, khususnya yang perempuan, menghujat habis-habisan beberapa artis luar negeri karena beberapa hal yang sebenernya ga penting. Kita bisa baca beritanya di sini: https://www.instagram.com/p/B_j7yi1H1Qu/?igshid=g2zp7z7tontm

Setelah aku baca-baca, ternyataaa penyebab hujat menghujat itu sebagian besar karena Netizen yang merasa paling bener itu merasa insecure dan iri hati atas kecantikan si artis-artis. Nah loh! Dampak insecurity bisa sampe malu-maluin gitu, kan!

3. Gila kecantikan

Saking pengennya sesuai sama beauty standard yang ada di masyarakat, orang-orang jadi rela ngelakuin apa aja asal ujung-ujung diakui cantik oleh orang lain. Misalnya, operasi plastik yang mahal, pasang implan, suntik, dan sebagainya.

4. Menyakiti diri sendiri

Karena ngga bersyukur dan terus merasa tidak puas, orang terus mencoba menjadi sempurna dan sesuai dengan beauty standard di kalangan masyarakat. Perasaan itu terus mengganggu mental kita karena kita selalu overthinking, berpikir negatif, yang berujung kesedihan bahkan stress.

Beauty standard yang ada di masyarakat emang nggak mudah untuk dihentikan. Menurutku sih, cara yang paling mudah bisa dimulai dari kita masing-masing. Solusi yang pertama dan utama adalah self-love dan mensyukuri apa yang kita punya, apapun keadaannya. Kedua, stop compairing and stop insecure. Ketiga, membangun body image yang positif. Dan inget, kecantikan itu bukan hanya penampilan luar saja, tetapi juga hati kita, tindakan kita, dan perkataan kita.  Maybe some of you will think that the tips are just bullshit and difficult to do. Akan tetapi, semua hal itu tadi akan menjadi mudah jika kita masing-masing melakukannya dan saling respect satu sama lain.

Quotes from Najwa Shihab : 

"Jangan mau didikte oleh ukuran cantik yang dibuat orang lain. Cantik bukan sebatas fisik. Kecantikan tak semata kualitas bawaan yang melekat pada seseorang, melainkan juga energi yang menyebar dan dirasakan sekelilingnya. Sebab perempuan memang bukan pemandangan. Dan kecantikan, bukan untuk diperlombakan."

I recommend you some videos related to beauty standard, body positivity, body image, and self-love. Hope you like it!

Kita vs Body Image - Beropini eps.49 by Gita Savitri Devi

Body positivity, beauty standard, loving yourself | Beropini eps. 9 by Gita Savitri Devi

Tentukan Sendiri Definisi Cantikmu | Catatan Najwa by Najwa Shihab

Peace out!


 

Comments

Post a Comment

Write your comments below politely. Thank you for reading! (:

Kunjungi postingan lainnya juga!

Crab Mentality : Mentalitas yang Ternyata Racun

HARI VAN LITH 2020 : #throwback My First Year

Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan?