HARI VAN LITH 2020 : #throwback My First Year

Notes to Myself #2


[Disclaimer : Semua yang aku ceritain di sini adalah pengalamanku sendiri, perasaanku sendiri, dan opiniku sendiri. Calm down✌️]


Tepat sebulan yang lalu, tanggal 17 Mei 2020, bertepatan dengan Hari Van Lith aku menulis sedikit tentang pengalaman dan dinamikaku sebagai anak asrama di tahun pertamaku. Dari sekian banyak pengalaman yang aku dapet, aku akan cerita secara singkat aja. 

Not gonna write a long prologue, I’m gonna start it right now!

[17 Mei 2020]
Aku udah ceritain hari pertamaku di Van Lith. In essence, OASE itu kayak MOS pada umumnya, ya pengenalan. Bedanya ... OASE itu 24 jam dalam 6 hari. Can you imagine?! Dimarah-marahin, bolak-balik sekolah-asrama, terikat banyak aturan, salah dikit-ketauan-kena sanksi, repeat. Ya, gitu lah. Anyway, sengaja nggak mau cerita detail soalnya nggak mau spoiler hehehe. (Notes: Pelaksanaan OASE setiap tahunnya tidak selalu sama, ya😉)

“Kenapa sih harus digalakin?”; “Bukannya itu kekerasan ya? Udah dilarang gak sih?; “Bukannya udah gak relevan ya?”. Maybe, some of you will think the same. Walaupun sebenernya nggak separah itu, sih. Awalnya, aku mikir dinamika OASE itu settingan dan formalitas. Seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar bahwa memberikan kesan “serius” dan “tegas” itu memang diperlukan (idk, manusia itu kadang kala kalau nggak digembleng nggak bakal jadi). Asalkan, porsinya nggak berlebih, seperlunya, dan tujuannya bisa tersampaikan. 

Menurutku, OASE adalah saat di mana kita diberi gambaran tentang bagaimana ‘kehidupan sebenarnya’ di asrama dan sekolah. Nggak cuma soal gimana caranya kita bisa survive dengan ritme kehidupannya, tapi juga tentang gimana caranya kita survive bareng orang lain, yang kita sebut “keluarga” since day 1 OASE. Meskipun capek lahir batin luar biasa, setelah menggali maknanya, “Oke, gue mulai ngerti”.  Tbh, OASE was fun actually and unforgettable. 

Talking about my first year, bagiku tahun pertama itu mengesankan karena aku dapat banyak hal baru untuk pertama kalinya. Selain OASE, ada 5 hal lain yang selalu aku inget soal tahun pertamaku.

1. Budaya Sapa-Menyapa
Sebagai orang Jawa, budaya menyapa itu bukan hal yang asing. Tapi, untuk pertama kalinya, budaya menyapa itu jadi suatu KEWAJIBAN. It’s like “Kalo lo ga nyapa, lo mati”. Konon katanya, kalau anak kelas 10 udah berani sombong dan nggak nyapa, dia bakal kena “hukum alam” (if you know what I mean). Saking seringnya nyapa, adalah suatu hal yang wajar bagi anak kelas 10 menyapa semua orang yang dijumpainya, termasuk satpam Mall, yang biasanya digubris aja enggak. Sebetulnya, budaya ini bukan suatu aturan yang ditegakkan oleh sekolah. Budaya ini hanya adat, turun-menurun dari generasi ke generasi. Nggak heran, sapaan kami menjadi ciri khas.

2. Homesick
Common thing di dunia asrama. Tbh, aku sendiri waktu kelas 10 malah jarang ngerasa homesick, loh. Yaa paling-paling pengen nangis aja kalau mau balik asrama, HEHE.

3. Nyesel masuk VL
“Nyesel, njir, masuk sini”. “Iya, gue gak berubah apa-apa”. Sambatan-sambatan ini juga merupakan salah satu common thing di sini. Jujur aja, saat itu aku kurang suka sama orang yang dengan mudahnya mengatakan hal itu. At first, aku emang merasa risih setiap kali ada yang menyesali keputusannya untuk masuk asrama. “Bisa nggak, sih, jalanin aja?” kataku dalam hati saat itu. Lambat laun, aku mulai tersadar bahwa latar belakang, pengalaman, dan cara orang menghadapi sesuatu itu berbeda-beda. Kemampuan orang juga berbeda-beda. Mungkin kita merasa bahwa kita bisa menghadapinya karena dirasa mudah. Namun, belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. Kalau aku, sih, ambil positifnya saja. Dari awal aku memang tidak banyak berekspektasi soal kehidupan asrama. “Jalani aja” adalah kalimat yang paling menenangkanku saat itu.

Menurutku, di manapun sekolah kita, sekeren apapun itu, sekolah dan asrama hanyalah sebuah wadah atau cetakan. Semua perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri. Bagiku, kurang tepat juga kalau kita terus menyalahkan keadaan. Toh, perubahan itu tidak datang begitu saja. It takes time. 

4. Insecure, Gak Mau Kalah, Pesimis
Ketika aku memasuki dunia SMA, dunia baru yang luas, aku menyadari bahwa bahwa ternyata aku cuma remah-remah rengginang. Sebelum SMA, aku cukup aktif dan punya label yang baik di sekolah. Saat memasuki SMA, nyaliku ciut. Aku bertemu dengan orang yang luar biasa. Belum lagi pelajaran di SMA yang susah banget rasanya. Merasa bego, lah, pokoknya. 

Mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama. Aku mengamati banyak dari teman-temanku yang mencoba sekeras-kerasnya untuk menunjukkan “dirinya” dengan berbagai cara. Apalagi, ada beberapa orang yang ketika berada di lingkungan baru, mencoba untuk membentuk citra atau first impression sebaik mungkin agar nantinya dikenal dengan label yang baik. Itu semua adalah hal yang manusiawi dan tidak salah. Sayangnya, aku bukan tipikal orang yang seperti itu. Saat persaingan semakin ketat, aku justru takut dan mulai terganggu. “Kenapa SMP beda banget sama SMA?”, pertanyaan itu selalu muncul. Lambat laun, aku mulai tersadar bahwa pikiran-pikiran itu justru membuatku nggak berkembang. Aku terlalu sibuk memikirkan orang lain, aku terlalu takut kalah, tapi di sisi lain aku nggak berusaha apa-apa. Aku mulai mengubah mindsetku dan terus menasihati diri sendiri, “Udah, win. Fokus aja sama jalanmu sendiri. Just do your best,”. Akhirnya, kini aku tidak lagi mempedulikan hal itu. Oh, ya. Tidak hanya itu, aku juga mulai menikmati kehidupanku dengan bersosialisasi, ikut OSIS dan kepanitiaan, seru-seruan sama temen, dan pokoknya yang penting hepi.

5. Unit, Rutinitas, dan Keluarga
Unit (tempat tinggal kami di asrama dengan 20 anggota) pertama menurutku adalah unit yang paling ngena. Kenapa? Bagiku, unit di tahun pertama itu  adalah “rumah pertama”, sekaligus saksi semua perubahan drastis dari masing-masing anggotanya. Mulai dari slek, kesel, nangis bareng, ketawa bareng, sambat bareng, main bareng, foto bareng setiap ada orangtua yang berkunjung, sampai nangis-nangis karena nggak mau pindah unit.

Kedua, rutinitas. Rutinitas yang awalnya membosankan lama kelamaan menjadi sesuatu yang dirindukan (nggak juga sih hahaha.) Apalagi, kegiatan-kegiatan lain kayak 17-an, BKSN, ZTA, Napak Tilas (I’m gonna write about this event soon), dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Ketiga, keluarga. Jauh dari keluarga di rumah, bukan berarti kami nggak punya keluarga di sini. Ada suatu budaya khas yang turun temurun dari generasi 1, yaitu keluarga. Sejak gen 1, ASPi punya hak untuk mengambil undi nama adik kelas yang nantinya menjadi “adek cabut”. Begitu seterusnya hingga terbentuklah keluarga yang bercabang-cabang karena sampai sekarang budaya itu terus berlanjut. Belum lagi dengan ASPa yang boleh mengangkat dan diangkat. Alhasil, terbentuklah silsilah keluarga beranak pinak yang bercabang-cabang.

Sebenernya pengalaman di tahun pertamaku banyak banget dan yang jelas nggak semulus keliatannya. Pengen banget ditulis di sini tapi bingung gitu loh gimana nyeritainnya. Rasanya kayak otak sama tangan nggak kompak. Otak udah nerocos terus, tapi tangannya slow response gitu. Ngerti kan:')









 

Comments

Kunjungi postingan lainnya juga!

Crab Mentality : Mentalitas yang Ternyata Racun

About Beauty

Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan?