Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan?
Selama bersekolah, aku sering mengeluh karena tugasnya banyak banget dan nggak selesai-selesai. Bahkan, terkadang aku merasa 24 jam itu kurang buat ngerjain itu semua. Suatu hari, aku kaget karena temanku berhasil menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, padahal tugas yang diberikan sama banyaknya. Kok bisa, ya? Dan...akhirnya aku menemukan titik permasalahannya. Ternyata karena aku suka menunda-nunda pekerjaan, atau yang biasa disebut dengan prokrastinasi.
Piers Steel, seorang penulis buku “The Procrastination Equation”, mengatakan bahwa 95% orang di dunia mengaku pernah menunda mengerjakan tugas atau pekerjaan mereka. Hmm, 95%? Banyak juga, ya. So, is this phenomenon normal? Ehm, nggak juga karena ternyata menunda-nunda pekerjaan juga berdampak negatif, loh.
Apa itu prokrastinasi?
First of all, apa itu prokrastinasi? Menurut Cambridge Dictionary, prokrastinasi adalah tindakan menunda-nunda sesuatu yang harus dilakukan. Fyi, nggak semua penundaan disebut prokrastinasi, ya! Seseorang baru dianggap melakukan prokrastinasi jika dirinya sengaja menunda pekerjaan karena sesuatu yang tidak penting atau bukan prioritas. Contohnya, ketika kita ada tugas dari sekolah atau disuruh orang tua untuk melakukan sesuatu, eh...bukannya dikerjain malah mampir dulu buka sosial media atau melakukan hal yang kurang penting.
Tbh, prokrastinasi sebenernya kompleks banget dan setiap orang punya alasan yang berbeda-beda. Kali ini aku ngambil beberapa referensi dan berusaha menuliskannya secara sangat sederhana supaya gampang dipahami. I will put the references at the end of the writing and I hope you can read them!
Prokrastinasi itu sebetulnya bukan bener-bener karena kita malas atau nggak bisa ngatur waktu, loh! Bahkan ini nggak ada hubungannya dengan produktivitas. Seorang psikolog bernama Tim Pychyl mengatakan bahwa penundaan yang kita lakukan itu sebenarnya bentuk dari reaksi emosional yang mendalam dari dalam diri kita pada sesuatu yang tidak ingin dilakukan. Ya, gampangnya, tuh, kita menunda pekerjaan karena kita nggak suka sama hal itu.
We must realize that, at its core, procrastination is about emotions, not productivity. The solution doesn’t involve downloading a time management app or learning new strategies for self-control. It has to do with managing our emotions in a new way.
Mengapa kita suka menunda pekerjaan?
Kalau bukan karena malas, lalu kenapa kita melakukan prokrastinasi? Ada banyak penyebab mengapa kita menunda-nunda pekerjaan.
Merasa punya banyak waktu luang di waktu yang akan datang.
Aku sering banget ngalamin ini. Ketika ada tugas sekolah dengan tenggat waktu yang cukup lama, aku cenderung menunda untuk mengerjakan dengan segera.
"Ah, besok-besok, kan, masih bisa,"
Eh, tau-tau udah hari-H. Alhasil, harus ngebut, deh, ngerjainnya. Kalau gini, siapa yang repot? Ya, diri sendiri, lah :)
Merasa keberatan dan kurang menikmati prosesnya
Ini juga aku alami waktu pembuatan karya tulis. Aku merasa pembuatan karya tulis itu sangat membebankan dan nggak asyik. Akhirnya, aku memilih untuk menundanya dulu. Yah, manusia itu kayaknya cenderung menyukai kesenangan ya~ Jadi, mereka memilih untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan yang menurut mereka tidak menyenangkan.
Takut salah atau takut gagal
Kok bisa, ya, takut salah menjadi salah satu penyebabnya? Nah, ini biasanya dialami oleh orang-orang perfeksionis. Karena takut salah dan khawatir hasilnya nggak sempurna, akhirnya malah nggak memulai sama sekali. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan hasil yang sempurna ketimbang memulai untuk dikerjakan
Bingung mau mulai dari mana
Karena bingung bagaimana memulai pekerjaannya, akhirnya kita memutuskan untuk menundanya dulu. Contohnya, kita punya tugas untuk membuat laporan penelitian. Karena belum mendapat konsep dan bingung harus mulai dari mana, akhirnya kita menundanya dengan harapan besok-besok bakal dapet ide. Eh, malah keterusan dan nggak segera dikerjain :D.
Kurang percaya diri
Karena kita merasa "nggak ahli" di bidang pekerjaan yang harus kita lakukan, kita malah jadi nggak percaya diri dan nggak semangat buat segera menyelesaikannya.
"Ah, aku nggak bisa, deh, kayaknya. Ntar-ntar aja, deh, ngerjainnya"
Kurang motivasi
Nah, ini juga penting, nih! Kurangnya motivasi bisa menyebabkan prokrastinasi, loh. Karena merasa bahwa pekerjaan yang harus diselesaikan itu nggak berbuah apa-apa (nggak ada reward-nya), kadang kala kita menjadi malas untuk segera menyelesaikannya.
Menunggu mood bagus buat mulai mengerjakan
Ini juga sering terjadi, nih. Karena merasa belum dapet mood yang bagus untuk nyelesain pekerjaan, kita cenderung menundanya dan memilih untuk melakukan hal-hal menyenangkan yang bikin good mood. Contohnya, seorang murid menunda mengerjakan PR karena moodnya lagi nggak bagus, lalu ia memilih untuk menonton film dan bermain game "supaya dapet good mood". Eh, malah terlena~ Akhirnya, nggak selesai juga, tuh, PR-nya.
Sebetulnya, masih ada banyak lagi alasan mengapa kita melakukan prokrastinasi. Kita bisa buka laman 'ini' kalau ingin tahu lebih soal alasan-alasan lainnya. Di situ ditulis secara lengkap!
Untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan prokrastinasi ini, ada beberapa cara, nih, yang bisa dilakukan.
- Hal pertama, yang harus kita lakukan adalah cari penyebab mengapa kita melakukan prokrastinasi. Kalau kita udah tau alasannya, maka kita akan lebih mudah menentukan cara yang tepat untuk melawan prokrastinasi.
- Kedua, jangan terlalu mengkhawatirkan hasil akhirnya, yang penting mulai dulu saja. Memulai itu memang proses yang paling sulit dan memakan banyak energi, tapi setelah kita memulai, kita cenderung sulit untuk berhenti. Aku jadi ingat salah satu tweet seorang Youtuber Indonesia, Jerome Polin, "Jangan terlalu banyak dipikirin, lakuin aja. Entar tau-tau juga selesai. Semangat." Exactly! Aku setuju banget. Kalau kita cuma menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkannya, kapan memulainya? Nggak akan mulai, maka nggak akan segera selesai juga, dong.
- Ketiga, bikin lingkungan senyaman mungkin dan jauhkan diri dari distraksi. Nah, ini, nih, yang menurutku cukup sulit untuk dilakukan. Buat kita yang suka terdistraksi karena adanya handphone atau media sosial, kita bisa gunakan fitur "Do not disturb" di handphone atau bisa juga menjauhkan diri dari handphone supaya nggak terganggu :D.
- Keempat, kasih reward ke diri sendiri setelah berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Misalnya, kita berencana untuk menyelesaikan tugas A dalam waktu satu hari. Ketika tugas itu selesai tepat waktu, kita bisa memberikan penghargaan kecil seperti misalnya menonton film, memasak, atau sekedar ngumpul sama temen.
Mungkin ini nggak mudah, ya, buat kita yang selama ini adalah procrastinator. Akan tetapi, kita bisa coba pelan-pelan buat menguranginya. As I mentioned before, prokrastinasi ini bukan soal manajemen waktu dan produktivitas kita. Ini, tuh, soal regulasi diri dan emosi kita terhadap pekerjaan tersebut. Jadi, mari kita belajar mengatur emosi kita terhadap tugas-tugas kita, ya. Walaupun nggak suka, mari kita mulai kerjakan dulu saja :D. Semangat!
References:
https://www.nytimes.com/2019/03/25/smarter-living/why-you-procrastinate-it-has-nothing-to-do-with-self-control.html Why You Procrastinate (It Has Nothing to Do With Self-Control) - New York Times
https://tinyurl.com/ytbkxzdn Why we wait: the neuroscience of procrastination - nesslabs
https://pijarpsikologi.org/prokrastinasi-dan-regulasi-diri/ Prokrastinasi dan Regulasi - Pijar Psikologi
https://youtu.be/MzuHS3LHxJU - On Marissa's Mind: Prokrastinasi - Greatmind // tbh I highly recommend this video (and also the channel)!
https://youtu.be/mVrh-0lgqN0 - Tidak Produktif dan Menunda Pekerjaan (Cara Stop Menunda dan Prokrastinasi!) - Satu Persen-Indonesian Life School










Comments
Post a Comment
Write your comments below politely. Thank you for reading! (: