Mengenal Toxic Productivity: "Obsesi" Terhadap Produktivitas
Di masa pandemi ini, kita sering menemui narasi-narasi atau postingan-postingan yang mendorong kita untuk tetap produktif meskipun di rumah. Bahkan, rasa-rasanya kalau nggak melakukan sesuatu, tuh, kita dicap dosa banget. Belum lagi, ngeliat postingan orang-orang di media sosial tentang kesibukan dan pencapaian mereka yang bikin kita -yang tidak "produktif" ini- merasa tertinggal atau bahkan tertekan.
Produktivitas hampir dijadikan obsesi bagi masyarakat kita. Kita sering kali takjub dengan orang-orang yang memiliki berbagai macam aktivitas dalam keseharian mereka. Kita juga sering memuji seseorang yang mampu untuk begadang setiap malam demi mengerjakan tugas-tugas mereka. Pokoknya, semakin banyak yang kita lakukan, semakin kita sibuk, maka semakin kita "worthy". Hal tersebut seringkali mendorong orang-orang untuk terus menyibukkan diri sendiri tanpa memperhatikan waktu, kesehatan diri sendiri, dan kondisi di sekitarnya. Jika mereka tidak melakukan kesibukan itu, maka mereka akan tertinggal. Apalagi, dunia ini terasa semakin kompetitif dan membuat kita tidak mau kalah dengan orang lain.
Karena merasa gelisah jika tidak melakukan kesibukan tertentu, kita terus memforsir diri sendiri untuk terus melakukan berbagai kegiatan. Kita akan merasa bersalah jika meluangkan waktu untuk beristirahat, relaksasi, atau sekedar bertemu dengan orang-orang di sekitar kita. Jika sudah mengalami hal ini bisa jadi kita menjadi salah satu korban dari fenomena toxic productivity.
Apa itu toxic productivity?
Menurut Dr. Julie Smith - seorang psikolog klinis dari Hampshire, Inggris -, toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan selalu merasa bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Sedangkan, menurut Britanny Wong dalam huffpost.com, toxic productivity adalah keinginan (yang tidak sehat) untuk menjadi produktif setiap saat dengan segala cara. Dapat dikatakan bahwa toxic productivity adalah obsesi untuk menjadi produktif setiap saat dan akan menimbulkan rasa bersalah jika tidak melakukannya. Toxic productivity ini ternyata bukan fenomena yang baru, loh! Fenomena serupa sudah terjadi sejak lama, khususnya di Amerika, tetapi lebih familiar disebut sebagai hustle culture atau workaholism. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sebetulnya istilah toxic productivity, hustle culture, dan workaholism itu berbeda, ya. Aku sendiri belum menemukan jurnal yang menjelaskan definisi harafiah dan perbedaan ketiga istilah tersebut :( Namun, aku pernah mendengarkan dari sebuah webinar yang disampaikan oleh Ibu Lu'luatul Chizanah, seorang dosen lulusan Psikologi UGM, beliau mengatakan bahwa sebetulnya ketiga istilah tersebut berbeda. Kalian bisa juga menonton webinar tersebut di link ini.
Orang yang terjebak dalam fenomena toxic productivity akan berpikir bahwa semakin kita bekerja sekeras-kerasnya, maka semakin terbuka lebar jalan kita menuju kesuksesan. Well, that's not wrong. Akan tetapi, jika dilakukan secara berlebihan, hal tersebut bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental kita, lho.
Toxic productivity is this obsession with radical self-improvement above all else and the result is that no matter how you productive you are, you're always left with that guilty feeling of not having done more. -Dr. Julie Smith
Pertama, mari kita kenali dulu apa tanda-tanda toxic productivity!
- Merasa bersalah apabila tidak menggunakan waktu untuk "produktif"
- Terobsesi dengan kesempurnaan dan tidak pernah merasa cukup
- Terobsesi dengan pekerjaan dan target hingga tidak peduli dengan keadaan sekitar
- Melupakan kebutuhan-kebutuhan seperti: tidur, makan, beristirahat, atau rekreasi.
Dampak buruk toxic productivity
Tekanan untuk selalu menjadi "produktif" bisa mempengaruhi kondisi kesehatan fisik dan mental kita. Apa saja, nih?
- Kita akan merasa gelisah dan menyalahkan diri sendiri ketika tidak melakukan sesuatu
- Melakukan terlalu banyak hal dapat membuat kita stres. Stres juga berdampak pada kesehatan fisik, loh! Ada beberapa penyakit yang disebabkan oleh stres, seperti misalnya gangguan pencernaan, hipertensi, jantung, hingga obesitas.
- Selain stres, toxic productivity juga bisa menyebabkan burn out, lelah mental, hingga demotivasi.
Cara menghindari toxic productivity
Apa yang harus kita lakukan agar dapat keluar dari toxic productivity?
- Remember, only you know yourself best. Kenali terlebih dahulu batas kemampuan otak, fisik, dan mental kita. Dengan begitu, kita akan tahu hal-hal apa saja yang bisa kita handle, dan tentunya tahu pula kapan harus beristirahat dan kapan harus mulai bekerja lagi.
- Peka terhadap perasaan. Kita perlu menyadari perasaan lelah atau jenuh yang muncul. Jangan sampai kita memendam atau mengabaikannya karena ini berpengaruh terhadap diri kita sendiri. Ketika sudah merasa lelah, jangan takut untuk beristirahat.
- Menentukan prioritas sesuai kapasitas. Ketika kita berhadapan dengan keinginan untuk melakukan banyak hal sekaligus, kita harus bisa memilah hal-hal apa saja yang memang penting dan sesuai dengan kemampuan kita.
- Focus. Menurutku ini adalah hal yang paling penting. Fokus di sini artinya dalam melakukan pekerjaan, kita mengerahkan energi dan pikiran kita benar-benar untuk satu pekerjaan itu tanpa memikirkan atau bahkan melakukan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
- Stay present. Hal ini juga berkaitan dengan poin kelima. Hal ini penting ketika kita sedang beristirahat dan relaksasi. Saat kita memiliki waktu untuk beristirahat, maka nikmatilah waktu itu dan gunakan waktu istirahat dengan optimal tanpa memikirkan pekerjaan kita. Dengan begitu, otak dan mental kita akan ter-recharge dengan maksimal saat istirahat dan kita tidak akan kelelahan lagi saat mulai bekerja
- Utamakan kesehatan fisik dan mental
Nothing wrong with having a good work ethic and wanting to work hard. Yang terpenting adalah tetap memperhatikan diri sendiri dan lingkungan di sekitar kita saat melakukannya. Produktif berbeda dengan sibuk. Produktivitas bukan soal melakukan banyak hal sekaligus, tetapi tentang bagaimana kita bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan kita. Produktivitas kita bukan ukuran seberapa berharganya diri kita. We are still valuable even though we aren't productive, khususnya di masa pandemi ini. Produktivitas juga bukan sebuah kompetisi. Kita tidak perlu terlalu membanding-bandingkan produktivitas kita dengan orang lain. Know yourself, be kind to yourself, and just live your life at your own pace :)
"Productivity is not bad, over-exhaustion is."
References:
https://cimsa.or.id/news/index/productivity-know-your-limit-before-it-turns-toxic Productivity: Know Your Limit Before It Turns Toxic
http://theconcordian.com/2021/03/hustle-culture-and-toxic-productivity-are-ruining-your-brain/
https://greyjournal.net/hustle/grow/discussing-the-harms-of-toxic-productivity-with-an-expert-psychologist/ Dicussing The Harms of Toxic Productivity With An Expert Psychologist
What is Toxic Productivity? Dr Julie Smith - Mental Health Awareness Week - BBC
uwaaa wina weren banget makasi winaa buat pencerahannya borahae
ReplyDeletewaaa makasih stella udah baca :D
Delete\