Things I've Learned From Start-Up

Siapa, nih, yang udah nonton?

[Spoiler Alert ⚠. Better if you watch the drama first]

Beberapa waktu lalu, drama Korea berjudul “Start-Up” ini sempat hype. Saking ramenya, aku sampe nyempetin buat nonton padahal saat itu PAS belum selesai. And yes, this is my first drama I watched in 2020 setelah terakhir menonton drama korea, tuh, sebelum masuk SMA hihi (yeah, I was a k-drama addict). Menurutku, drama ini plotnya ringan dan mirip-mirip dengan drama Korea pada umumnya. Ada satu hal yang membuatku suka dengan drama Korea yang satu ini. Bukan. Bukan Han Ji-pyeong ataupun Nam Do-san. Hal yang membuatku suka dengan drama ini adalah value atau pelajaran hidup yang ada di dalamnya.

Dari sekian banyak pelajaran yang aku dapet dari drama yang satu ini, ada beberapa hal yang menurutku paling bermakna buat aku.

1. Yakin dengan pilihan yang ditentukan dan tidak menyesalinya

Saat kedua orangtuanya bercerai, Seo Dal-mi lebih memilih untuk tinggal bersama ayahnya, dibandingkan bersama ibunya yang saat itu menikah lagi dengan seorang pria kaya. Dal-mi bisa aja nyesel karena saat itu tidak memilih tinggal bersama ibunya yang hidupnya lebih terjamin. Tapi ternyata tidak. Meskipun hidupnya lebih susah daripada In-jae, Dal-mi tidak pernah menyesali keputusannya saat itu. Justru keadaannya saat itu membuatnya bersemangat untuk membuktikan bahwa keputusan yang ia ambil saat itu tidak salah dan ia bisa lebih sukses dari In-jae. 

2. Mau berubah

Sebuah keputusan sulit bagi Do-san, Yong-san, dan Chul-san yang saat itu harus mengganti CEO Samsan Tech. Mereka meragukan kemampuan Seo Dal-mi yang saat itu tidak punya latar belakang sarjana. Akan tetapi, akhirnya mereka sadar bahwa selama dua tahun terakhir perusahaan mereka tidak mengalami perkembangan. Harus ada yang diubah, supaya perubahan itu terjadi. Dan akhirnya, mereka memberanikan diri untuk memilih Seo Dal-mi sebagai CEO mereka. Dari sini kita belajar, bahwa untuk suatu perubahan diperlukan keberanian dan tekad untuk berubah.

3. Move on dari masa lalu

“Sampai kapan mau terus bicarakan masa lalu? Kau akan gagal jika terus melihat ke belakang. Bahkan lihat ke depan pun belum tentu berhasil,”

Kalimat itu diucapkan oleh In-jae kepada Dal-mi yang saat itu selalu membahas masa lalu mereka setiap bertemu dengan In-jae. Seo Dal-mi juga sering menyebut privilese In-jae yang membuat In-jae sukses. Yah, sepertinya saat itu Dal-mi masih belum move on dari masa lalu, nih. Tapi bener juga, loh,  yang dikatakan oleh In-jae. Mau sampai kapan terus membicarakan masa lalu? Kita akan sulit maju jika terus menerus melihat ke belakang. So, stay present! Masa lalu biarlah berlalu.

Tambahan quote dari uri alpha female In-jae:

“Cobalah belajar dari keberhasilan orang lain. Jangan jadikan koneksi dan keberuntungan sebagai alasan. Itu terlalu klise,”  

 4. Tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman

“Growth is painful. Change is painful. But nothing is as painful as staying stuck somewhere you don’t belong,” – Narayana Murthy.

Aku pernah denger Merry Riana bilang "Tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman,". Setuju! Begitu pula sebaliknya, tidak ada kenyamanan dalam 'zona' pertumbuhan. Kita bisa lihat perjuangan Samsan Tech dari awal didirikan, mulai dari membangun perusahaan di bawah atap berjamur, tidak mendapatkan investor, pergantian CEO, berhasil masuk Sand Box, memenangkan Demo Day, hingga akhirnya dibubarkan karena tidak teliti saat membaca kontrak dengan 2STO. Dalam perjalanannya, Samsan Tech sering sekali mendapat tekanan dan kritikan, apalagi dari Mr. Han, tuh. Nggak nyaman banget, sih, pasti. Bahkan si Chul-san pernah sampe gedeg banget dengerin kritikan Mr. Han. Di samping pahitnya itu semua, justru hal-hal itulah yang menguatkan mereka. Kalau mereka cuma santai-santai aja, tutup telinga dengan segala kritikan, dan tidak mau berkompetisi, mungkin mereka nggak akan bisa berkembang. And yes, Han Ji-pyeong emang the best mentor ever buat Samsan Tech, sih!

5. Berlayar tanpa peta

Kalimat ini beberapa kali disebutkan dalam drama ini. Tbh, awalnya aku nggak setuju dengan “Berlayar tanpa peta” ini. Menurutku, segala sesuatu yang ingin kita capai itu, ya, harus planned. Tapi ternyata, “Berlayar tanpa peta” yang dimaksud adalah berani melangkah untuk mencoba sesuatu yang baru.

Well, kita memang harus mencoba agar tahu apakah kita akan berhasil atau tidak. Jika gagal? Anggap saja sebagai pengalaman. Seperti kutipan yang sering aku baca di buku Sinar Dunia, “Experience is the best teacher”😊.

6. Bangkit dari insecurities

Di episode awal-awal, Do-san selalu terlihat cupu dan minder, apalagi sama Mr. Han. Dia selalu ragu-ragu dan linglung kalo disuruh ambil keputusan. Padahal, sebenernya dia genius dan punya kemampuan lebih. Hingga akhirnya, ia harus memilih untuk ikut ke Amerika dan bekerja dengan Perusahaan 2STO. Sepulang dari Amerika, terlihat ada perbedaan dari diri Do-san. Ia terlihat lebih confident, lebih berani mengambil keputusan, dan yang jelas lebih keren, dong. Hihihi.

Nah, itu tadi 6 poin yang menurut aku menginspirasi. Semoga, keenam poin ini bisa menjadi motivasi juga buat kita, khususnya menyambut tahun yang baru nanti. Well, mungkin nggak akan segampang itu lah, ya, eksekusinya. Tapi setidaknya, kita udah ada semangat dulu, dong, buat tahun yang akan datang. Oh, ya! Dan satu hal yang nggak kalah penting, yaitu “Follow Your Dream”. Fighting!

***
Picture credit:
tvN
Netflix
instagram.com/skuukzky

 

 

 

Comments

Kunjungi postingan lainnya juga!

Crab Mentality : Mentalitas yang Ternyata Racun

About Beauty

HARI VAN LITH 2020 : #throwback My First Year

Kenapa Kita Suka Menunda Pekerjaan?